(met ultah Etho Ke 22)
Tikar pandan dan peradaban tidak pernah layu apa lagi mati suri
Kasanan ke-hasan makin mengaya
Kita berjalan sudah sampai pematang masa
Keceriaan dan pola pikir miniatur
Bukan sekedar solekan belaka;
Apalagi hanya sebatas pencitraan seperti kader unggulan pada pentas “pewayangan”
Kiranya sekarang ini sudah siap dan dipastikan tangguh menampilkan ruh samarnya
Karena bukan lagi berada pada zaman buruk bagi pikiran dan imajinasi;
Bagaimana tidak tangguh !
Sudah tahu kesehariannya penuh tadarus dan hafalan al-Qur’an,
Masih sempat-sempatnya berkumpul dengan peradaban lingkungan;
Lalaran nadhom dan kajian kitab terus diprogramkan sebagai “bukan proyek budaya pesantren”
Kok masih sempat-sempatnnya berbondong dengan warga untuk menjawab kebutuhan bersama
Jujur saja kalau Ath-Thohiriyyah ini gerbang Madinah;
Trowongan kecil yang tidak ada rambu-rambu dikotomi.
Berbeda dengan yang diluar sana.
Keliatannya majlis semedi; tapi tidak bisa menjawab kegelisahan masyarakat maupun umat;
Di meja tetangga sebelah lebih ngeri lagi., keliatannya sedang menjawab kegelisahan masyarakat maupun umat; Tapi ternyata rampok yang tidak memakai hijab.
Seprti apa Masjid kami, kalian bisa lihat sendiri
Untuk sekedar kunci, kami mapu beli seribu paket !
Tapi tidak akan pernah kami kunci sebagai mana masjidnya kanjeng Nabi hingga para Wali.
Masihkah kalian kurang paham dengan ini !
Silahkan pergoki kami ketika membangun teras surau di pojokan kamar;
Kalau Masih juga kalian tidak paham.
Akan aku biarkan hingga kalian tahu masalah ikhtiar, i’tibar Rosul maupun idiologi bisnis para pemilik modal.
Eper Ath-Tohiriyyah, 20 Desember 2014
Kamis, 25 Desember 2014
Rabu, 24 Desember 2014
Jiwa Disurut Cinta
Tasbih melingkar hangat di pangkuan sajadah
Menghiasi paras manis lenbaran qauliah
Apa ini merupakan pertanda, ingkar dan menati surut cnta
Yang terlahir dalam dada
Tak sadar hidup ini di lembah biru
Kapan jiwa ini tersenyum di titik sukur
Wahai malam yang telah menutupi siang
Dan siang selagi terang benerang
Aku surut di jalan cinta
Sebab yang kucari hanya dusta
Kapan jiwa I’tikad dan berpesan
Untuk menjadi golongan kanan.
Purwokerto, 15 April 2008.
Menghiasi paras manis lenbaran qauliah
Apa ini merupakan pertanda, ingkar dan menati surut cnta
Yang terlahir dalam dada
Tak sadar hidup ini di lembah biru
Kapan jiwa ini tersenyum di titik sukur
Wahai malam yang telah menutupi siang
Dan siang selagi terang benerang
Aku surut di jalan cinta
Sebab yang kucari hanya dusta
Kapan jiwa I’tikad dan berpesan
Untuk menjadi golongan kanan.
Purwokerto, 15 April 2008.
Kota Tanpa Rembulan
Sayup-sayup rembulan
Sempoyongan,
Berbondong,
Sisakan kegelapan.,
Sembari menangis;
Cucurkan gerimis
Dimalam ini.
Cahaya kota seakan surut
Ditinggal rembulan
Mencari ketenanggan
Tuk gantikan sepercik rindu
Yang kian lama ditahan
Dalam hati, terbingkai tangis malam
Terlampau jauh kau pergi rembulan
Senyum kota menggigil rindu
Akan sorot mata kasih-Mu
Hangat tatapanmu tak bisa ditukar
Dengan deru kota mala mini
Sunyi kota ini
Manusia seakan mati/
Nafas hanya setengah hati.,
Bisikan cinta……….,
Hanya dari gesekan besi
Sedang jerit keras kesakitan
Terdengar lantang
Dari balik deruji
Merobek impian malam
Purwokerto, 5 Mei 2008
Sempoyongan,
Berbondong,
Sisakan kegelapan.,
Sembari menangis;
Cucurkan gerimis
Dimalam ini.
Cahaya kota seakan surut
Ditinggal rembulan
Mencari ketenanggan
Tuk gantikan sepercik rindu
Yang kian lama ditahan
Dalam hati, terbingkai tangis malam
Terlampau jauh kau pergi rembulan
Senyum kota menggigil rindu
Akan sorot mata kasih-Mu
Hangat tatapanmu tak bisa ditukar
Dengan deru kota mala mini
Sunyi kota ini
Manusia seakan mati/
Nafas hanya setengah hati.,
Bisikan cinta……….,
Hanya dari gesekan besi
Sedang jerit keras kesakitan
Terdengar lantang
Dari balik deruji
Merobek impian malam
Purwokerto, 5 Mei 2008
Sajadah Kusam
Lama kau senandungkan Wirid
Menabur sepi dipertiga malam
Hanya berteman sajadah kusam
Di pojok masjid peninggalan moyang.
Biji tasbih berputar menerjang redupnya malam.
Redup yang bercengkrama dengan kabut awan.
Sesekali Ia pergi meninggalkan sajadah kusam
Tuk mencari kesucian yang seakan hilang
Dibawa beratnya selaput pandang.
Kembali duduk pada sajadah kusam
Hingga terdengar gelegar tawa Ayam Jantan
Berteriak menguisir udara malam
Mengganti udara baru di pangkal fajar.
Tuan penguasa sajadah kusam
Merasa saat nafas di tepi sadar
Seraya teriak :
TUHAN……..!!
Apakah malam sudah hilang.
Purwokerto, 29 Desember 2006
Menabur sepi dipertiga malam
Hanya berteman sajadah kusam
Di pojok masjid peninggalan moyang.
Biji tasbih berputar menerjang redupnya malam.
Redup yang bercengkrama dengan kabut awan.
Sesekali Ia pergi meninggalkan sajadah kusam
Tuk mencari kesucian yang seakan hilang
Dibawa beratnya selaput pandang.
Kembali duduk pada sajadah kusam
Hingga terdengar gelegar tawa Ayam Jantan
Berteriak menguisir udara malam
Mengganti udara baru di pangkal fajar.
Tuan penguasa sajadah kusam
Merasa saat nafas di tepi sadar
Seraya teriak :
TUHAN……..!!
Apakah malam sudah hilang.
Purwokerto, 29 Desember 2006
Tentang Ombak Pada Karang
Saat karang
Diterjang ombak
Yang berpetualang
Mencari ilmu tentang kasih saying,
Di tepi sungai
Dengan membawa aroma bangkai
Yang ditinggal sebagai kenangan.
Oleh ombak pada karang;
Dibiarkan pula ombak berpaling
Dari hadapan karang
Untuk mengobral kasih saying
Dengan kawan
Yang berdampingan dengan karang.
Ombak itu temanMu
Ia tidak edan
Mungkin…….,
Ia ingin berbagi rasa
Dalam kehangatan cinta
Yang dating
Beriring dengan gelombang.
Purwokerto, 24 Juni 2006
Diterjang ombak
Yang berpetualang
Mencari ilmu tentang kasih saying,
Di tepi sungai
Dengan membawa aroma bangkai
Yang ditinggal sebagai kenangan.
Oleh ombak pada karang;
Dibiarkan pula ombak berpaling
Dari hadapan karang
Untuk mengobral kasih saying
Dengan kawan
Yang berdampingan dengan karang.
Ombak itu temanMu
Ia tidak edan
Mungkin…….,
Ia ingin berbagi rasa
Dalam kehangatan cinta
Yang dating
Beriring dengan gelombang.
Purwokerto, 24 Juni 2006
Aku Bukan Benalu (dari hati warga kompensasi)
Haus, lapar
Keras dan kasar
Mengiringi jalan-Ku
Demi sesuap nasi
Yang ditimbun nasib
Cukup yang diharap
Kurang yang sering hinggap
Dalam perang kehidupan.
Aku ingin makan
Untuk sesuap nasi
Aku buka benalu
Hanya;
Ingin minta jatah tiga bulan lalu
Ungkap Saudaraku, pada Ibu
Ia juga bukan benalu
Purwokerto, 21 Juni 2006
Keras dan kasar
Mengiringi jalan-Ku
Demi sesuap nasi
Yang ditimbun nasib
Cukup yang diharap
Kurang yang sering hinggap
Dalam perang kehidupan.
Aku ingin makan
Untuk sesuap nasi
Aku buka benalu
Hanya;
Ingin minta jatah tiga bulan lalu
Ungkap Saudaraku, pada Ibu
Ia juga bukan benalu
Purwokerto, 21 Juni 2006
Sebutir Buah Kuldi
Di surga yang hanya bisa ditumbuhi
Tanaman yang belum pernah ku mengerti
Apa berkulit duri
Atau mungkin, bertangkai besi
Aku hanya dengar cerita orang Tua
Yang diambil Dari kitab Maha karya
Tentang Setan iri pada Manusia.
Bujuk setan pada Ayah-Bunda
Atau yang kita kenal Adam dan Hawa.
Saat tak mau bersujud pada keduanya
Dari perintah Sang Maha Kuasa
Yang menciptakan Jagat raya
Bujuk setan mempan pada Bunda
Yang ditiru oleh ayahanda
Karena lupa
Akan pesan sang penguasa.
Seketika itu dipisah dan dan di pindah keduanya
Dari Surga
Menuju Dunia
Yang akhirnya tercipta kita.
Purwokerto, 6 Juni 2006
Tanaman yang belum pernah ku mengerti
Apa berkulit duri
Atau mungkin, bertangkai besi
Aku hanya dengar cerita orang Tua
Yang diambil Dari kitab Maha karya
Tentang Setan iri pada Manusia.
Bujuk setan pada Ayah-Bunda
Atau yang kita kenal Adam dan Hawa.
Saat tak mau bersujud pada keduanya
Dari perintah Sang Maha Kuasa
Yang menciptakan Jagat raya
Bujuk setan mempan pada Bunda
Yang ditiru oleh ayahanda
Karena lupa
Akan pesan sang penguasa.
Seketika itu dipisah dan dan di pindah keduanya
Dari Surga
Menuju Dunia
Yang akhirnya tercipta kita.
Purwokerto, 6 Juni 2006
Buaya Berkulit Sutra
Buaya berkulit sutra
Berkeliaran di tengah Rawa
Yang ditanami bangunan Kota
Saat makhluk tak ada yang kuasa
Di Rawa, Buaya menawarkan jasa
Dengan tujuan berlilpat ganda
Pada orang yang tak kuat derita
Sebab bangkrut dari usaha
Kembali berlipat ganda memang tujuan buaya
Bukan menghapus derita,
Orang yang menerima jasa
Malah memperparah luka.
Purwokerto, 5 Juni 2006
Berkeliaran di tengah Rawa
Yang ditanami bangunan Kota
Saat makhluk tak ada yang kuasa
Di Rawa, Buaya menawarkan jasa
Dengan tujuan berlilpat ganda
Pada orang yang tak kuat derita
Sebab bangkrut dari usaha
Kembali berlipat ganda memang tujuan buaya
Bukan menghapus derita,
Orang yang menerima jasa
Malah memperparah luka.
Purwokerto, 5 Juni 2006
Obor Iman Di Kampung Sebrang
Malam sepi diiringi badai, kaburkan bulu dan debu.
Waktu aku, duduk diruang tamu
Rumah milik Majikanku.,
Tak sengaja mata memandang
Mengikuti mata angin yang tak berpenghalang
Terlihat obor, aku lari mendekati pintu gerbang
Aku……, terus memandang
Walau jauh dikampung sebrang
Yang kukira tak ada orang
Aku datang lewat jalan petang
Sesampainya Ku intip dari belakang
Terlihat jelas Orang dari lubang
Sedang membaca Ayat Suci dengan tenang.
Purwokerto, 4 Juni 2006
Waktu aku, duduk diruang tamu
Rumah milik Majikanku.,
Tak sengaja mata memandang
Mengikuti mata angin yang tak berpenghalang
Terlihat obor, aku lari mendekati pintu gerbang
Aku……, terus memandang
Walau jauh dikampung sebrang
Yang kukira tak ada orang
Aku datang lewat jalan petang
Sesampainya Ku intip dari belakang
Terlihat jelas Orang dari lubang
Sedang membaca Ayat Suci dengan tenang.
Purwokerto, 4 Juni 2006
LILIN-LILIN KECIL DI HATI SINGA
Lilin-lilin kecil menempel di hati
Saat singa bergegas lari
Untuk mencari mangsa yang suci
Singa yang muak pada kenyataan diri
Lilin kecil tak mudah lari
Malah membesar menerangi hati
Mengingatkan pada Illahi
Singa itu smpat berhenti
Saat melihat orang sufi
Yang duduk di garasi
Rumah milik Illahi.
Tunduk singa dihadapan Orang Sufi
Yang iya sapa Kiyai
Sambil bertanya tentang isi hati
Yang ditimbun Extasi
Untuk mengobati penyakit hati
Waktu singa prustasi
Orang sufi tak henti-henti untuk menasehati
Pada singa yang lari sebab sakit hati
Degan kata yang mudah dimengerti
Olah singa yang kering budi pekerti.
Purwokerto, 1 Juni 2006
Saat singa bergegas lari
Untuk mencari mangsa yang suci
Singa yang muak pada kenyataan diri
Lilin kecil tak mudah lari
Malah membesar menerangi hati
Mengingatkan pada Illahi
Singa itu smpat berhenti
Saat melihat orang sufi
Yang duduk di garasi
Rumah milik Illahi.
Tunduk singa dihadapan Orang Sufi
Yang iya sapa Kiyai
Sambil bertanya tentang isi hati
Yang ditimbun Extasi
Untuk mengobati penyakit hati
Waktu singa prustasi
Orang sufi tak henti-henti untuk menasehati
Pada singa yang lari sebab sakit hati
Degan kata yang mudah dimengerti
Olah singa yang kering budi pekerti.
Purwokerto, 1 Juni 2006
KISAH MAWAR LAYU
Gemerlap, ramai dan terkesan romantis
Terlihat di taman itu
Taman surga dunia yang diselimuti awan kesunyian
Namun;
Terlihat wajah murung
Disekitar warung
Warung Remang-remang
Kata Orang
Yang sering berlangganan kasih sayang.
Wajah murung itu milik Mawar
Mawar yang layu
Sebab habis ditipu
Oleh laki-laki yang pandai merayu
Dengan racun brselimut madu.
Sekujur tangkai Mawar terlihat layu
Kala terkena efek racun itu
Menyesal sudah di penghujung waktu
Dijual pun tak laku
Teman malah mengadu pada Tuannya sambil berseru
Buang saja itu Tuanku !
Perintah dari tuan gremo dari Tuan Mu
Lantas gegas tuan itu
Takpedulikan jasanya dulu.
Purwokerto, 1 Juni 2006
Terlihat di taman itu
Taman surga dunia yang diselimuti awan kesunyian
Namun;
Terlihat wajah murung
Disekitar warung
Warung Remang-remang
Kata Orang
Yang sering berlangganan kasih sayang.
Wajah murung itu milik Mawar
Mawar yang layu
Sebab habis ditipu
Oleh laki-laki yang pandai merayu
Dengan racun brselimut madu.
Sekujur tangkai Mawar terlihat layu
Kala terkena efek racun itu
Menyesal sudah di penghujung waktu
Dijual pun tak laku
Teman malah mengadu pada Tuannya sambil berseru
Buang saja itu Tuanku !
Perintah dari tuan gremo dari Tuan Mu
Lantas gegas tuan itu
Takpedulikan jasanya dulu.
Purwokerto, 1 Juni 2006
BENANG-BENANG KUSUT
Benang kusut hinggap di tengah Samudra
Menghalang ombak yang berdansa
Ombak yang jernih gelap seketika
Merubah warna dan citra
Begitu pula bangsaKu
Yang dihinggapi pengacau
Datang satu persatu
Untuk membuat malu
Benang kusut dianggap pengacau nggak mau
Malah mengaku
Akulah pejuang baru.
Purwokerto, 30 Desember 2006
Menghalang ombak yang berdansa
Ombak yang jernih gelap seketika
Merubah warna dan citra
Begitu pula bangsaKu
Yang dihinggapi pengacau
Datang satu persatu
Untuk membuat malu
Benang kusut dianggap pengacau nggak mau
Malah mengaku
Akulah pejuang baru.
Purwokerto, 30 Desember 2006
TANGIS KU
Tuhan.... Tuhan.....Tuhan;
Aku menangis dalam kegelapan.
Purwokerto, 6 Mei 2008
Aku menangis dalam kegelapan.
Purwokerto, 6 Mei 2008
HILANG RASA
Seberkas wajah kekasih
Meniupkan angin-angin mimpi
Menjulang pada dinding semi
Dan menari di ujung sepi
Sakit ini................sakit ini
Menggema menggerogoti mimpi
Kekasih kapan kembali
Yang sudah lama pergi dari pelupuk hati
Meniupkan angin-angin mimpi
Menjulang pada dinding semi
Dan menari di ujung sepi
Sakit ini................sakit ini
Menggema menggerogoti mimpi
Kekasih kapan kembali
Yang sudah lama pergi dari pelupuk hati
Purwokerto, 19 April 2008
ISTANA GEMBEL
Badai ekonomi
menerjang
Menghantam
bebatuan bernyawa
Tembok dinding
tak mampu menghalang
Melindungi tuan
penguasa istana
Roboh luluh
lantah
Ditindas
kekejaman kota
Kolong jembatan
diubah istana
Oleh tuan yang
susah payah
Bukan lagi kursi
mewah
Apalagi rumah
megah
Kini semua
berubah
Mengikuti keadaan
yang tak terarah
Alarm membisu
enggan membangunkan tidurnya.
Tinggal lolongan
anjing di sekitar ranjang kardus
Pada katak di
kolong jembatan ia berpesan
Tolong ! Jaga
tidurku dari ancaman yang berpesta
Rembulan Binal
Di keheningan
malam
Secangkir tuak
disiram
Untuk
penghormatan pada rembulan yang muram
Yang tak tahu
dosa dan haram
Bintang,
Kunang,
Lampu jalan,
Dan semua yang
menyala seakan padam
Saat itu.,
Saat buaya hampir
kehilangan akal
Karena akal
dipenggal oleh renbulan yang binal
Senin, 22 Desember 2014
SAJAK 27 Mei, UNTUK DIY
*Kupersembahkan untuk korban gempa
Bumi Berdzikir
Saat itu
Dipagi yang cerah pada hari Sabtu
27 Mei 2006 tersurat dalam kalender ku
Berdzikir merobohkan bangunan-bangunan megah
Dari dalam laut
Seolah mengejar wedus gembel yang lari
Lari dari lembah merapi
Bersabar saudaraku
Kita semua ikut pilu, dalam kesedihan yang menimpamu
Kembali, sabarkan jiwamu
Kebalkan iman tuk maju
Membangun sisa puing-puing itu.
Purwokerto, 28 Mei 2006
DARAH SUCI ANAK NEGERI
Cucur air mata terus mengalir
Dari wajah lembut
Wajah milik Ibu Pertiwi
Yang punya kebun luas
Kebun bamboo runcing namanya
Gemah ripah loh jinawi julikanya
Namun….,
Kini telah diganti
Gemah ripah loh korupsi
Anak Bangsa ingin berjuang
Untuk ujudkan cita-cita suci
Cita-cita demokrasi untuk negri
Walau dengan darah kita mengabdi
Semua itu hanya untuk sang Ibu
Ibu Pertiwi
Ibu yang tak mau dikadali.
Purwokerto, 2 Mei 2006
Langganan:
Postingan (Atom)